MenaraToday.Com - Pandeglang :
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pandeglang dinilai tak adil oleh emak-emak, pasalnya progam makan gratis yang luncurkan oleh Presiden Prabowo hanya berjalan di dua kecamatan, yakni Kecamatan Labuan dan Kecamatan Menes.
Perlu diketahui, jumlah penerima MBG di Kabupaten Pandeglang sebanyak 6.800 siswa mulai dari Paud, TK, SD, SMP dan SMA/SMK. Program MBG untuk Kabupaten Pandeglang perdana sudah dilakukan pada Senin (17/2/2025), di 15 sekolah yang berada di Kecamatan Labuan dan 30 sekolah yang ada di Kecamatan Menes mulai dari Paud hingga SMK.
Menyikapi tak meratanya MBG, salah satu warga Kecamatan Panimbang, Asti Wati (27), mempertanyakan kenapa MBG tidak diberikan untuk para siswa sekolah yang ada di wilayah kecamatan lainnya.
"Ini jelas gak adil, kenapa program ini gak ada di Kecamatan kami? Pemerintah jangan pilih kasih doong," kata. Rabu (19/2/2025).
Sementara itu, menurut Warga Desa Caringin, Sanah (36), jika pemerintah tidak bisa adil dalam program MBG sebaiknya menstabilkan harga-harga kebutuhan sehari-hari daripada mengadakan program makan gratis yang dirasa tidak adil.
"Kalau saya pribadi sih ingin nya seluruh indonesia harga bahan pokok di turunin dan di pantau terus selama jabatan Pak Prabowo, terkait makan gratis, karena maaf tidak semua anak suka dengan menu atau rasa dari paket makanan yang diterima," ujarnya.
Sementara itu, Heri Hariri, selaku pengelola dapur MBG Kecamatan Labuan sekaligus pemilik catering 3 puteri menjelaskan, bahwa keterkaitan komposisi menu dan porsi makanan yang diberikan setiap harinya bukan kebijakan dari pihak katering atau dapur.
"Mulai dari menu, porsi makanan itu semua sesuai instruksi pusat dalam hal ini Badan Gizi Nasional (BGN) yang diwakili oleh sarjana penggerak pembangunan indonesia (SPPI) yang mengawasi terkait kandungan gizi, di dapur pengolah makanan. Jadi, porsi nasi, sayuran, lauk pauk dan buah-buahan harus sesuai juknis dari pusat, untuk siswa Paud, TK, SD, SMP dan SMA/SMK itu berbeda. Misal, untuk siswa SMP hnya 100 gr beras sementara siswa SMA/SMK itu 150 gr beras, begitupun dengan menu pelengkap lainnya ada takarannya masing-masing dan itu harus sesuai, jadi bukan kami (tim dapur) yang mengatur, kami hanya mengolah dan mengirim," ungkapnya.
Ketika disinggung, terkait tidak adanya susu dalam menu, Heri menyebut, bahwa harga per paket untuk menu harian senilai Rp10 ribu tidak masuk.
"Berat kalau harus ada susu juga, mengingat harga per paket makanannya hanya Rp10 ribu jadi kami menyesuaikan yang terpenting kandungan gizinya terpenuhi," ucapnya (Ila)